(6 strategi untuk remaja menghadapi era normal baru)

Oleh: Rika Hikmah Rizkita

Masa remaja adalah masa yang kompleks dan COVID-19 membuatnya semakin kompleks. Dengan penutupan sekolah dan acara-acara yang dibatalkan, banyak remaja melewatkan beberapa momen besar dalam kehidupan mereka -serta momen sehari-hari seperti mengobrol dengan teman dan berpartisipasi di dalam kelas. Tidak sedikit remaja yang merasa cemas akan kehidupan masa depan mereka akibat dari pandemi ini. Beberapa tips berikut bisa menanggulangi kecemasan yang dialami remaja semasa pandemi dan persiapan menghadapi era normal baru.

  1. Sadarilah bahwa kecemasan kita sepenuhnya normal

Jika penutupan sekolah dan berita-berita terkait covid19 yang belum juga berakhir membuat kita merasa cemas, kita bukanlah satu-satunya yang merasakan hal demikian. Faktanya, itulah yang memang seharusnya dirasakan. Psikolog telah lama menyadari bahwa kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang mengingatkan kita akan ancaman dan membantu kita mengambil tindakan untuk melindungi diri kita sendiri. Kecemasan akan membantu kita membuat keputusan yang perlu kita buat sekarang – tidak menghabiskan waktu dengan orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah. Perasaan semacam itu tidak hanya membuat kita aman, tetapi juga menjaga kesehatan orang lain. Ini menjadi salah satu cara bahwa kita memikirkan orang lain.

Meskipun kecemasan seputar COVID-19 bisa dipahami, namun pastikan kita hanya menggunakan sumber yang dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi, atau untuk memeriksa informasi apa pun yang mungkin kita dapatkan melalui sumber yang kurang dapat dipercaya.

Jika khawatir mengalami gejala, penting untuk membicarakannya dengan orang tua. Perlu diingat bahwa penyakit akibat infeksi COVID-19 umumnya ringan, terutama untuk anak-anak dan remaja. Penting juga untuk diingat, bahwa banyak gejala COVID-19 dapat diobati. Beri tahu orang tua atau orang dewasa tepercaya jika merasa tidak enak badan, atau jika merasa khawatir tentang virus, sehingga mereka dapat membantu kita.

Ada banyak hal efektif yang dapat kita lakukan untuk menjaga diri kita dan orang lain tetap aman yaitu dengan sering-sering mencuci tangan, jangan menyentuh wajah kita, dan melakukan jarak fisik dengan orang lain.

  1. Menyibukkan Diri

Ketika kita dalam kondisi yang sangat sulit, baik bagi kita untuk membagi permasalahan kita menjadi dua kategori: hal yang bisa kita lakukan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Pada masa pendemi seperti ini, banyak hal yang masuk pada kategori kedua, tapi tidak masalah, ada satu hal yang membantu kita mengatasinya yaitu dengan menyibukkan diri kita sendiri. Lakukanlah pekerjaan rumah, menonton film favorit, atau banyak-banyaklah melakukan ibadah, sebagai sarana mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

  1. Temukan cara baru untuk terhubung dengan teman

Jika kita ingin menghabiskan waktu bersama teman sambil tetap berlatih menjaga jarak, media sosial adalah cara yang bagus untuk terhubung. Sambil senantiasa menuliskan hal-hal positif di sosial media yang kita miliki sehingga akan terbentuk pula pikiran positif bagi kita yang menulis dan orang-orang yang membaca.

Namun, tetap harus membatasi screen time yang kita pergunakan untuk selalu terhubung dengan teman, karena bagaimanapun, semakin lama kita menghabiskan waktu dengan gadget justru akan semakin menimbulkan kecemasan dan akan muncul hal-hal yang kurang baik terutama untuk kesehatan kita.

  1. Fokus pada diri sendiri

Pernahkah merasa ingin mempelajari hal baru, misalnya membuat sebuah novel, mempelajari alat musik baru, atau membuat sebuah karya lain? Inilah saatnya. Fokus pada diri sendiri dan menemukan cara untuk memanfaatkan waktu agar menjadi produktif dan bisa membuat kita menjaga kesehatan mental.

  1. Menghayati perasaan kita

Kita memang kehilangan acara-acara bersama dengan teman di sekolah, tidak bisa melaksanakan hobi atau pertandingan yang biasanya dilaksanakan jika kita bersekolah seperti biasa dan itu memang merupakan hal yang mengecewakan. Cara terbaik dalam mengatasi perasaan ini justru biarkan diri kita menghayati perasaan ini, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa untuk mengobati rasa sakit adalah dengan melaluinya. Hal ini pun berlaku pada kecemasan dan kekecewaan kita terhadap keadaan seperti sekarang ini.

Setiap orang memiliki cara sendiri dalam mengekspresikan perasaanya. Ada yang membuat sebuah karya seni, ada yang menggali potensinya menjadi pengusaha dan hal-hal tersebut membantu kita untuk tetap terhubung dengan teman-teman dan salig berbagi perasaan dan pengalaman yang dilalui satu sama lain. Yang paling penting adalah melakukan apa yang kita sukai dan tetap di jalan yang benar.

  1. Berbaik hati pada diri sendiri dan orang lain

Banyak dari kita yang mengalami penurunan kondisi ekonomi di keluarganya, dan tidak sedikit dari mereka yang terpuruk karena hal ini. Dengan pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk menggunakan telepon pintar, banyak diantaranya tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

Sebagai seorang teman, hadirlah untuk membantu. Karena, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain akan senantiasa kembali kepada kita meskipun dalam bentuk yang berbeda. Selain dalam bentuk tindakan kita juga perlu menjaga apa yang kita katakan, terutama di media sosial. Kita perlu memikirkan apa yang kita bagikan atau katakan yang mungkin akan menyakiti orang lain. Karena tidak semua orang bisa melewati hari dengan baik seperti kita melewatinya. Maka, jadilah orang yang memiliki empati untuk orang lain.